Cuma satu deh yu suer, kamu kuat aja udah seneng apalagi kalau sembuh
Cuma satu deh yu suer, kamu kuat aja udah seneng apalagi kalau sembuh
Puisi adalah kalimat-kalimat bersayap.
Ia mampu masuk ke dalam hatimu yang terdalam
: walau hanya kau baca dalam diam.- Tia Setiawati Priatna
Jangan pernah membuang-buang kenangan,
mereka tidak diciptakan untuk begitu saja kau lupakan.Ingatlah, selalu ada sesuatu yang berarti,
untuk kau pelajari.- Tia Setiawati Priatna
Gambar dari :
Aku ingin memelukmu, dibawah merahnya langit senja itu, diantara rindu yang terlalu.
- Tia Setiawati Priatna
Rindu. Rindu adalah ketika bayang tak tertangkap oleh bola mata. Ketika penat tak punya tempat merebah. Ketika hati yang menangis tak terjamah oleh kebijaksanaan yang tersimpan dalam tiap jemari. Dan ketika merpati tak pernah punya waktu untuk sampaikan segala rasa yang ada. Rindu itu sakit. Sakit ketika kau tak punya karang untuk menahan debur rasa yang kian kentara di tiap harinya. Sakit ketika kau tau tak ada lagi pelangi yang selalu hadir di tiap kata yang terlontar. Dan sakit yang teramat adalah ketika kau bangun dari mimpi indah semalam dan ternyata kau harus hidup dalam kenyataan seberapa jauh jarak antara kau dan dia.
Aku punya satu perasaan yang pasti dimiliki orang lain. Perasaan apa? Apalagi kalau bukan rindu. Aku merindukanmu dengan berkelimpahan. Tak secerah mentari memang, tapi sehangat sinarnya. Tak sesejuk embun tentunya, tapi selembut permukaannya. Tak ada yang kalahkan rasa ini. Takkan pernah ada. Siapa percaya bahwa rindu punya hubungan khusus dengan menunggu. Siapa yang suka menunggu? Kau kah? Tentu tidak. Dan ini yang harus kau tau. Aku adalah orang yang tak suka menunggu sebelum aku bertemu denganmu dan mengenal rindu.
Malam membuyarkan lamunan. Bintang tertata rapi. Membuat orang yang melihatnya ingin sekali memetik sinarnya dan menyimpannya dalam saku agar tak lari kemana mana. Indah satu kesan yang tercipta. Indah? Seindah rindu? Seindah menunggu? Tidak. Keduanya tak pernah indah. Keduanya luka. Tapi mengapa merindukanmu tak pernah bertepi? Mengapa kesabaran dalam menunggumu tak pernah habis? Mengapa aku rela merindu dan menunggumu dalam balutan angin malam sampai kelelahan tanpa kau pedulikan? Percayalah, aku akan duduk menanti bulan berganti mentari sampai kau buka matamu dan berlari ke arahku kemudian kita buat kerajaan dari serpihan kenangan yang telah luntur.
Sumpah sedih banget !!
Sekelebet kartun ini masih a better love story than Twilight wk !
Jadi gak tega kalo mau ngambil es batu )’:
(emang gapunya es batu sih sebenernya Alhamdulillah ehehe)
(Source: tastefullyoffensive)
Menangis. Menangis adalah ketika kedua matamu terasa dipenuhi oleh air dan kau tak mampu menahannya kemudian membiarkan satu per satu tetesnya menyentuh pipi merahmu dan melunturkan sebuah senyuman manis. Tapi tak selamanya senyuman manis itu bisa dihilangkan oleh sebuah tangisan. Karena sebagian orang masih bisa terseyum ketika ia menangis. Menangis bahagia bisa jadi? Mungkin.
Jatuh. Itulah satu kesan yang kuberikan pada tangisan. Ya. Aku tak pernah kuat menahannya. Siapa sangka? Tangisan yang terlihat hampa ternyata mengandung beribu beban yang tak mampu lagi membuat bibir mungil ini terbuka walau untuk satu kata sekalipun. Terlalu berat bahkan sangat berat.
Pasti semalam bulan tak naik ke pangkuan langit sehingga langit merajuk dan melampiaskannya pada sang fajar sehingga pagi ini sangat dingin. Dingin, sedingin tangisan yang jatuh membelai lembut jemari yang sedang bermesraan dengan secangkir susu. Ah aku butuh, tidak tidak. Aku tak pernah butuh apapun. Aku hanya butuh beranda hatiku berpenghuni. Bukan berpenghuni debu nestapa bukan berpenghuni lara berkepanjangan. Tapi… Terisi olehmu, oleh jemari yang rela menyibakkan tangis yang siap mendarat.
Bahagia. Sebagian orang beranggapan bahwa bahagia itu sederhana. Kau cukup menarik kedua sisi bibirmu sampai membuat kesan manis bagi siapa yang melihatnya. Itulah bahagia. Bukan bahagia. Tapi terlihat bahagia. Sesederhana itukah? Tentu saja.
Tapi tidak bagiku. Semua hal tak pernah semudah kita mengucapkannya dengan kata kata yang ditata menjadi sebuah kalimat omong kosong. Layaknya bahagia. Ia bukan soal kau sedang tersenyum ataupun tidak. Tapi tentang rahasia apa yang kau sembunyikan dari sebuah senyuman yang mampu menerbangkan tiap mata yang melihatnya. Mungkin semua orang tak pernah benar benar peduli apakah itu sebuah senyuman tulus atau paksaan. Kau tau mengapa aku beranggapan seperti ini? Karna aku tak pernah semudah itu bahagia.
Mentari berhasil bersinar dengan terik. Cukup membuat sebagian kulit yang tak tertutupi sedikit menghitam. Siang yang lelah untuk hati yang pasrah. Ku langkahkan kaki yang sedari tadi bermalas malasan karna sudah seharian ku pekerjakan. Kau tau bukan? Di dunia ini tak ada yang kekal. Semua akan hilang seiring berjalannya mentari, dari terbit sampai tenggelam. Selalu ada awal dan akhir. Ya inilah bahagiaku. Aku tak pernah mendapatkan kebahagiaan yang kekal. Karna selalu saja hanya sesaat kudaptkan bahagia. Kapan bahagia tiba? Hari ini? Esok? Ataukah lusa?
Sakit hati. Sakit hati adalah ketika kau dibiarkan memiliki sayap untuk terbang ke angkasa kemudian sayap sayap itu dibiarkan patah hingga membuatmu terjatuh membentur tiap awan sampai terjerembab diantara dedaunan kering di tepi jalanan berdebu.
Aku adalah putri kecil yang hilang dari istana kebahagiaan dan terjerumus ke dalam kesakitan yang teramat. Ini tentang perasaan. Aku hanya perlu kau tau seberapa lama aku bimbang menentukan haruskah aku menunggu dengan waktu atau pergi dengan memori. Kau tau jalan mana yang aku tunjuk? Ya. Menunggumu bersama waktu sampai saat sebelum kau hancurkan semua harapanku bersama para bintang di langit. Aku tak pernah meminta perpisahan yang indah. Karna bagaimanapun indahnya sebuah perpisahan ia akan tetap terlihat menyakitkan. Aku pun tak pernah minta kau tetap tinggal. Karna kau tak pernah berharap untuk tinggal lebih lama lagi walau sedetik saja.
Ku sandarkan punggungku yang lelah karna sedari tadi menggendong tas ransel kesayanganku di salah satu tiang lampu jalanan yang hampir bengkok karna terlalu sering terkena sundulan bola anak anak jalanan. Ah kali ini mentari berhasil menyemburatkan sinar merahnya pada sisi sisi langit, sore ini. Membuat pipi yang sedari tadi dialiri tetesan air hasil tumpahan perasaan dan mampu mengukir segores senyum di bibir mungil yang sedari tadi tertekuk ke bawah. Sempurna sudah. Kita punya langit yang sama… Mengapa kita tak pernah menyaksikannya bersama dengan jemari yang saling bertautan?